Membangun Kesadaran Melalui Ruang Tradisi

CINUNUK

Setelah menyusuri beberapa tempat di belahan wilayah Jawa Barat, akhirnya saya berkesempatan untuk menjejakkan kaki di dua kawasan adat, yaitu Kampung Naga dan Desa Cinunuk. Cinunuk merupakan sebuah desa yang secara administratif berada di Kecamatan Wanaraja, Kabupaten Garut ini, berjarak sekira 68 Km dari pusat ibukota Propinsi Jawa Barat. Saya sengaja memusatkan perhatian terhadap desa-desa atau ragam tempat di Jawa Barat yang memiliki potensi tradisi dan sejarah masa silam. Sejarah yang tentu saja mencerminkan pandangan dalam kosmologi budaya Sunda, -dengan harapan, perjalanan ini dapat membangun kesadaran melalui ruang tradisi.

Desa Cinunuk mengingatkan pada morfologi kehidupan jaman Kerajaan Sunda (selanjutnya Pajajaran) hingga masa penyebaran agama Islam di pertengahan abad ke-18. Beberapa sumber sejarah lisan menyebutkan, di Desa Cinunuk pernah ditemukan sebuah skin (pisau Arab) yang merupakan peninggalan Prabu Kian Santang, yang oleh sebagian masyarakat Jawa Barat tokoh tersebut ‘diyakini’ merupakan salah satu putra Raja Pajajaran saat itu, Prabu Siliwangi. Meski tokoh Kian Santang ini masih menyimpan teka-teki, namun hal itu tidak mengurangi nilai historis Desa Cinunuk dalam percaturan sejarah di Tatar Sunda. Di Desa Cinunuk ini pula terdapat makam seorang wali Allah yang bernama Raden Wangsa Muhammad, atau yang lebih populer dengan sebutan Pangeran Papak. Makam ini bersebelahan dengan kantor Kepala Desa Cinunuk, dan berjarak 2,5 Km dari alun-alun Kecamatan Wanaraja. Kemudian tak jauh dari lokasi makam Pangeran Papak terdapat sumber mata air yang dianggap keramat, yakni sumur tujuh Cinunuk. Mata air yang sangat jernih dan segar ini dipercaya memiliki khasiat tertentu. Kini, mata air sumur tujuh ini telah dialirkan dengan menggunakan kran, sehingga memudahkan para peziarah untuk mandi atau bersuci sebelum masuk ke kompleks makam Pangeran Papak. Masyarakat setempat dan para peziarah meyakini, bahwa mata air sumur tujuh ini merupakan air karomah.

Raden Wangsa Muhammad alias Pangeran Papak, hidup pada pertengahan abad ke-18. Dalam sejarahnya disebutkan, beberapa ratus tahun sebelumnya, di Desa Cinunuk hidup seorang kyai bernama Raden Muhammad Juari. Ia merupakan keturunan bangsawan Balubur Limbangan. Raden Muhammad Juari menikah dengan Nyi Raden Siti Injang, dan dikaruniai tujuh orang putera. Salah satu putera Kyai Raden Muhammad Juari ialah Raden Wangsa Muhammad. Ia merupakan putera bungsu, yang kelak meneruskan jejak ayahnya sebagai penyebar agama Islam di daerah Cinunuk dan sekitarnya. Dalam versi rundayan (silsilah) lainnya disebutkan, Raden Papak adalah generasi dari keturunan Prabu Layakusumah (putera Sri Baduga maharaja/Prabu Siliwangi) seorang nalendra Pakuan Raharja, yang menikah dengan Nyi Puteri Buniwangi, seorang puteri Prabu Layaranwangi (Sunan Rumenggong) dari Keprabuan Kerta Rahayu (Galuh).

Semasa hidupnya, Raden Wangsa Muhammad merupakan tokoh kharismatik yang sangat disegani dan banyak pengikutnya. Sebagai seorang ulama, beliau tidak pernah membeda-bedakan derajat manusia. Menurut prinsipnya, dimata Allah SWT kedudukan manusia pada dasarnya sama. Hanya ketakwaan dan akhlakul karimah-lah yang membedakan manusia yang satu dengan manusia lainnya. Sikap dan prinsip tersebut yang kemudian oleh masyarakat digelari Pangeran Papak, yang berarti rata atau sama. Kepada masyarakatnya, Pangeran Papak senantiasa memberikan anjuran agar hati selalu tentram, “Ulah ngingu kabingung, miara kasusah. Sangkan aya dina kagumbiraan manah” itulah salah satu ungkapan Pangeran Papak.

Selain membimbing masyarakat melalui ilmu-ilmu agama, Pangeran Papak ternyata menaruh perhatian terhadap kehidupan tradisi berkesenian. Baginya, seni merupakan sarana untuk menghaluskan budi pekerti manusia. Intensitas perhatiannya yang tinggi terhadap seni tradisi, kemudian melahirkan sebuah karya yang monumental yaitu kesenian tradisional Boyongan. Tradisi boyongan seringkali dipentaskan bersamaan dengan kesenian lainnya, seperti: wayang golek, pantun, beluk, karinding dan terbang. Dalam setiap pentas seni tradisi tersebut, Pangeran Papak selalu menyelipkan ajaran-ajaran agama Islam, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian para wali dalam melakukan proses islamisasi di tanah Jawa.

Ketertarikan Pangeran Papak terhadap seni tradisi, serta didukung oleh pengetahuannya di bidang agama dan budaya, memberinya dorongan untuk menciptakan karya sastra Sunda berjudul Wawacan Jakah dan Wawacan Aki Ismun. Seperti halnya seni tradisional boyongan, kedua karya sastra ini dijadikannya pula sebagai media untuk menyebarkan syiar Islam kepada masyarakat luas. Ketika masih hidup, banyak santri dan para seniman dari berbagai daerah yang sengaja datang kepada Pangeran Papak untuk mempelajari ilmu-ilmu agama dan kebudayaan. Ada pula diantaranya yang secara khusus untuk berdiskusi dan bertukar pikiran, tentang masalah-masalah yang berkaitan dengan seni-budaya. Hingga kini, Pangeran Papak merupakan sosok yang memiliki kharisma sekaligus teladan bagi masyarakat, tidak hanya di kalangan penduduk lokal, melainkan pula bagi masyarakat di belahan nusantara. Bahkan tokoh nasional, semisal KH. Abdurahman Wahid (Gus Dur) dan Megawati Soekarnoputri, ketika keduanya menjabat sebagai Presiden RI, pernah pula melakukan ziarah ke makam Pangeran Papak di Desa Cinunuk ini.

Desa Cinunuk terletak di jalur perjalanan wisata, khususnya wisata ziarah. Tak lengkap rasanya jika momen yang langka ini tidak dimanfaatkan untuk berkunjung ke makam Raden Wangsa Muhammad atau Pangeran Papak. Pancaran aura spiritual begitu terasa ketika memasuki gerbang makam, menegaskan kharisma dan keluasan pengetahuan yang dimiliki oleh tokoh penyebar Islam di tanah Garut ini. Menurut keterangan salah seorang keturunan Pangeran Papak, banyak diantara para peziarah yang datang untuk mengharap berkah (ngalap berkah) agar ditinggikan derajat atau kedudukan politiknya. Bahkan tak sedikit diantaranya yang bertujuan untuk menggali informasi dan atau berharap dangiang agar dimudahkan dalam mempelajari ilmu-ilmu agama dan seni-budaya. Ya, berharap dangiang –merupakan suatu prilaku metafisik yang lekat dalam kosmologi budaya Sunda. Dapat dikatakan, perjalanan ini merupakan refleksi tentang hitam-putih lintasan sejarah tatar Sunda. Sebuah repertoar yang sarat dengan makna simbolik: Perjalanan menuai harapan, Penghormatan pada leluhur.

Masyarakat Sunda, sebagai sekelompok manusia yang hidup dalam alam dan kultur Sunda, sudah pasti memiliki pandangan kosmologis yang merupakan kristalisasi biografi masa lalunya. Baik itu masa lalu pribadinya atau pun masa lalu yang secara turun-temurun merupakan warisan leluhurnya. Biografi tersebut, secara dialektis akan menghasilkan cara pandang baru seiring dengan bergulirnya jaman. Dialektika itu secara kontinyu akan terjadi melalui bentuk ekspresi budaya, sebagai bagian yang tak terpisahkan dari alur kehidupan setiap generasinya. Ekspedisi ini diharapkan mampu membuka ruang sadar kita agar mau berjuang dan berkorban untuk memberi makna terhadap lintasan perjalanan masa silam. Dengan harapan, agar masyarakat Sunda (Jawa Barat) mampu menghimpun kekuatan secara nyata untuk melakukan perubahan-perubahan yang berarti bagi kehidupan di masa mendatang. Kekuatan yang bukan hanya bergerak dalam aspek mitologi dan spritual belaka. Tetapi juga kekuatan dalam sikap, tindak dan tanduk sebagai masyarakat Sunda, yang berupaya untuk dapat mempertahankan harga dirinya. Salah satu usaha untuk membangun kekuatan itu, yakni dengan terus mengasah kemampuan dalam menghayati dan mengapresiasi kebudayaan lokalnya.

***

KAMPUNG NAGA

Ada hal yang “aneh” ketika melakukan kunjugan ke Kampung Naga kali ini. Kenapa aneh? Ya, barangkali ada terselip sedikit ‘pemberontakan’ kecil mengenai ekspektasi terhadap denyut kehidupan masyarakat Kampung Naga saat ini, yang sejatinya menyiratkan keteguhan terhadap nilai-nilai tradisi warisan adiluhung para leluhur. Ekspektasi atau cakrawala harapan, merupakan kosakata yang begitu renyah tatkala mesti disusun ke dalam catatan-catatan di atas kertas. Namun ternyata, bisa jadi harapan itu tinggal harapan. Tak lebih dari sekadar sepilihan keinginan ideal, sekumpulan cita-cita yang terkesan begitu sistematis dan sempurna, atau bahkan sebentuk gagasan yang bermula dari pikiran-pikiran bernas –yang acapkali hanya berhenti pada wacana-wacana diskusi semata.

Menyoal Kampung Naga, kawasan ini merupakan salah satu kampung adat di Jawa Barat yang dihuni oleh sekelompok masyarakat yang sebagian pola hidupnya masih memeluk tradisi leluhurnya. Secara administratif, Kampung Naga berada di wilayah Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya. Lokasi Kampung Naga tepat berada pada titik singgung (perbatasan) jalan raya yang menghubungkan Kabupaten Tasikmalaya dengan Kabupaten Garut. Berjarak sekira 30 Km dari pusat kota Tasikmalaya dan 26 Km dari pusat kota Garut, Kampung Naga mudah dijangkau dengan menggunakan kendaraan pribadi maupun sarana transportasi umum.

Secara geografis, keberadaan lokasi Kampung Naga terletak pada sebuah lembah, yang terdiri dari unsur-unsur ekologinya yang membentuk struktur kampung secara utuh sehingga menjadi bagian tak terpisahkan diantara satu sama lain. Untuk memisahkan setiap bagian struktur kampung, masyarakat adat Kampung Naga memasang kandang jagat, yakni sejenis pagar yang terbuat dari bambu dan di desain secara khusus dalam bentuk silang-menyilang agar tak mudah dimasuki hewan buas. Kampung Naga sendiri dibatasi oleh beberapa wilayah, antara lain, di sebelah selatan dibatasi oleh area pesawahan penduduk, sebelah timur dan utara dibatasi oleh Ciwulan (Sungai Wulan) yang airnya bersumber dari Gunung Cikuray (Garut). Sementara sebelah barat dibatasi oleh leuweung (hutan) larangan yang merupakan kawasan hutan tertutup, yang terintegrasi ke dalam bagian dari prilaku hidup dan sistem kepercayaan penduduk Kampung Naga. Berdasarkan keterangan penduduk setempat, di hutan yang dikeramatkan ini terdapat makam leluhur masyarakat Kampung Naga, sehingga siapa pun yang memasuki hutan ini tanpa ijin diyakini akan mendapatkan dampak buruk atas perbuatannya itu.

Untuk dapat memasuki Kampung Naga, dibutuhkan ketelitian dan ketahanan fisik agar mampu menuruni tangga batu (sengked) yang berjumlah tidak kurang dari 439 buah dengan tingkat kemiringan sekira 45 derajat. Setelah itu, kita akan dihadapkan pada bagian pertama dari struktur kampung yang biasa disebut dengan beungeut lembur (wajah, halaman, pekarangan kampung). Beungeut lembur ini berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan kandang-kandang ternak peliharaan penduduk, kolam ikan dan areal pesawahan milik masyarakat adat Kampung Naga. Selain itu, pada bagian ini terdapat pula beberapa MCK yang dapat dipergunakan oleh siapa saja, termasuk diantaranya para pengunjung yang datang ke Kampung Naga.

Unsur pembentuk struktur kampung berikutnya ialah tengah lembur. Bagian ini merupakan inti dari kehidupan Kampung Naga sebagai masyarakat adat untuk memuliakan tradisi nenek moyangnya. Di tengah lembur inilah masyarakat Kampung Naga bermukim dan menjalankan kehidupan tradisinya. Mereka mendirikan rumah sebagai sarana tempat tinggal, membangun tempat peribadatan, serta bangunan-bangunan lainnya untuk mendukung aktifitas keseharian warga kampung. Selain bangunan-bangunan adat, di area ini terdapat pula sebidang tanah yang cukup luas, yang kerap dijadikan pusat kegiatan masyarakat, semisal upacara adat atau tradisi ritual lainnya yang rutin dilakukan pada waktu-waktu tertentu. Pada bagian inti lembur ini terdapat tidak kurang dari 113 bangunan yang menempati area lahan seluas 1,5 Ha –terdiri dari 110 bangunan rumah tinggal yang dihuni oleh tiga ratusan penduduk kampung, sebuah masjid, leuit (tempat menyimpan padi) dan balai pertemuan atau yang biasa disebut Bumi Ageung. Dari keseluruhan jumlah bangunan yang ada, masjid dan bumi ageung merupakan tempat yang paling disakralkan atau disucikan menurut sistem keparcayaan masyarakat Kampung Naga. Hal ini dibuktikan dengan tidak disediakannya sarana untuk membuang hajat kecil apalagi hajat besar, sebagaimana terdapat pada masjid-masjid lainnya di berbagai daerah.

Secara antropologis, dinamika Kampung Naga tak lepas dari corak kehidupan masyarakat Sunda pada masa peralihan dari agama leluhur ke masa datangnya pengaruh Islam di Jawa Barat. Menurut tradisi lisan penduduk di sekitar Kampung Naga menyebutkan, bahwa cikal-bakal Kampung Naga memiliki keterhubungan dengan kiprah seorang tokoh yang bernama Singaparana, seorang abdi Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, yang mendapat perintah untuk menyebarkan agama Islam di wilayah barat Cirebon. Dugaan mengenai tokoh Singaparana ini, konon dapat ditelusuri dari keberadaan makamnya yang terletak di sebuah bukit yang merupakan bagian dari tungtung lembur (ujung kampung). Hingga kini, Singaparana selalu mendapat tempat khusus dalam kehidupan batin masyarakat Kampung Naga, yang diakui sebagai leluhur masyarakat adat tersebut. Di Kabupaten Tasikmalaya ada sebuah daerah yang bernama Singaparna. Namun penduduk Kampung Naga kerap menyebut nama daerah ini dengan sebutan Galunggung. Karena kata “Singaparna” memiliki kedekatan dengan kata “Singaparana”, yang merupakan nenek moyang mereka. Bagi penduduk Kampung Naga, menyinggung persoalan yang berkaitan dengan karuhunnya (leluhur) adalah hal yang ditabukan.

***

Suasana kawasan lembah subur nan eksotis, arsitektur adat yang tertata rapi serta sekelumit kisah tentang keteguhan masyarakatnya dalam memegang tradisi, adalah alasan Kampung Naga kerap dikunjungi dan dikenang sepanjang masa. Spiritualitas Kampung Naga senantiasa melahirkan inspirasi bagi generasi-generasi yang intens terhadap pergolakan wacana kebudayaan. Kesederhanaan hidup masyarakat Kampung Naga yang cenderung puritan, ditorehkan di buku-buku sejarah, filsafat, agama, dan essai-essai mengenai kebudayaan, -sehingga tak jarang merangsang diskusi-diskusi serta perdebatan di kalangan ahli dan kaum intelektual akademis. Bahkan keberadaan Kampung Naga telah mendapat tempat dan pengakuan dunia internasional.

Namun perjalanan dari waktu ke waktu yang turut mengiringi eksistensi Kampung Naga, perlahan namun pasti, telah merangsang terjadinya perubahan pada aspek psikologis masyarakatnya. Secara atributif, kondisi lingkungan Kampung Naga memang tetap lestari. Udaranya masih sejuk serta jauh dari kebisingan dan polusi. Begitu pula dengan arsitektur adat yang tertata sedemikian rupa, yang sarat dengan nuansa oriental sebagai bagian dari warisan masa silam kehidupan para leluhur di Tatar Sunda. Akan tetapi tatkala dihadapkan pada waktu yang terus memaksa masyarakat agar terus melakukan kontektualisasi, -sejarah masa lampau seperti bungkam dan sulit untuk sekadar melintas. Begitu pula dengan eksistensi masyarakat adat Kampung Naga. Mereka tak bisa membendung bergulirnya waktu, menolak perubahan jaman dan menghentikan siklus abad demi abad.

Perubahan dan kemajuan jaman sedikitnya telah memengaruhi paradigma masyarakat adat Kampung Naga. Dalam pandangan ini, “kemajuan” di satu sisi tertentu merupakan bagian dari sumber masalah baru, dan bukan menjadi faktor untuk menyelesaikan masalah yang ada. Sebagai sumber masalah, tabiat “kemajuan” akan memperlihatkan eksesnya dalam bentuk kerusakan, kehancuran atau bahkan keruntuhan. Kendati hingga detik ini masyarakat adat Kampung Naga masih memiliki kemampuan untuk tetap patuh pada warisan nenek moyangnya, namun di sisi yang lain mereka tak mungkin mengelak terhadap persentuhan dengan budaya yang datang dari dunia luar. Persoalan yang saat ini memerlukan perhatian, adalah bagaimana masyarakat Kampung Naga menciptakan formulasi untuk tetap bertahan terhadap tekanan-tekanan dan intervensi budaya kontemporer. Pada konteks ini, “kemajuan” dan persentuhan tersebut jika tak direnungi dengan kemampuan akal budi dan kesadaran, tentu akan menimbulkan ancaman serta kerusakan terhadap ekologi, kehancuran generasi demi generasi yang terus bersambungan, dan keruntuhan peradaban masyarakat yang selama ini dikenal taat dan patuh terhadap warisan tradisi leluhur.

Dari beberapa catatan, baik berupa hasil observasi dengan menggunakan metodologi ilmiah maupun dari laporan perjalanan para kompilator data kebudayaan, menegaskan, bahwa Kampung Naga pernah dihadapkan pada masa-masa krusial dalam menjalani dinamika kehidupan tradisinya. Pada fase ini, masyarakat adat yang berada di lembah Salawu tersebut mengalami imbas dari pertarungan ideologi yang mendera negeri ini yang belum lama mengenyam masa kemerdekaan. Di tahun 1956, organisasi DI/TII dibawah pimpinan Sekarmadji Maridjan Kartosoewiryo, membakar habis perkampungan adat ini. Hal tersebut dipicu karena masyarakat Kampung Naga tidak mendukung gerakan Kartosoewiryo yang hendak mendirikan negara yang berdasarkan syariat Islam di Indonesia. Masyarakat Kampung Naga lebih cenderung berpihak pada Soekarno, yang saat itu tengah fokus menciptakan stabilitas dalam upaya mempertahankan kemerdekaan.

Tahun itu merupakan periode yang sulit bagi masyarakat adat Kampung Naga. Politik bumi hangus yang dilakukan oleh gerakan DI/TII ternyata menimbulkan dampak yang luas. Tidak hanya kerusakan terhadap permukiman penduduk dan bangunan-bangunan adat semata, melainkan terjadinya proses “penghancuran” terhadap naskah-naskah dan arsip kuno yang memiliki keterhubungan antara masyarakat Kampung Naga saat itu, dengan kehidupan masa silam leluhurnya. Alhasil, dari peristiwa itu, disadari atau tidak, hal ini telah mereduksi penduduk Kampung Naga sebagai masyarakat adat yang seakan-akan tercerabut dari akar dan identitas yang sesungguhnya. Masyarakat Kampung Naga seperti tak lagi mengenal asal-usul sejarahnya, merasa asing terhadap struktur kehidupan tradisinya yang dibangun selama beratus-ratus tahun lamanya, yang pada suatu ketika, mungkin saja akan kehilangan pedoman hidup dan falsafah budayanya. Secara artifisial, sepertinya memang tak ada perubahan signifikan terhadap kondisi Kampung Naga. Begitu pula dengan masyarakatnya yang masih tetap menjalankan kegiatannya sebagai masyarakat adat pada umumnya. Akan tetapi, dari beberapa keterangan yang berhasil dihimpun selama saya singgah di kampung adat ini, tersirat sepilihan persoalan yang hingga tulisan ini dibuat masih menyimpan teka-teki.

Sebagai salah satu komunitas adat, Kampung Naga sejatinya mampu melakukan proteksi terhadap budaya luar, yang secara terus-menerus mendesak masuk melalui ruang-ruang persentuhan maupun celah kepentingan untuk dapat mencoba terhadap hal-hal baru. Memang, dalam logika manapun dinamika kebudayaan tak mungkin mengabaikan persoalan persentuhan, keterjalinan relasi antar-tradisi dan antar-budaya, atau semangat untuk melakukan pertukaran pengalaman kebudayaan itu sendiri. Akan tetapi, semangat dan persentuhan itu tidak serta-merta dapat dilakukan dengan cara mengebu-gebu, membabi-buta –tanpa disertai dengan kemampuan untuk mengapresiasi kearifan tradisi lokal. Hal inilah yang seringkali menjadi problematika bagi umumnya masyarakat Sunda; mengapa masyarakat Sunda saat ini kurang memiliki kemampuan dalam mengapresiasi kebudayaan lokalnya? Apakah memang masyarakat Sunda tidak lagi memandang penting arti keterhubungan dengan sejarah masa silam, yang melatarbelakangi lahirnya kebudayaan Sunda?

Memilih Kampung Naga sebagai salah satu tujuan dalam perjalanan ini, tentu bukan semata tanpa alasan. Harapannya ialah, turut memberi andil dalam menciptakan direktori baru tentang perspektif tradisi yang dikembangkan oleh komunitas adat, untuk kemudian dipedomani oleh masyarakat dalam konteks luas dan egaliter. Dengan kata lain, bahwa pola hidup yang biasa dilakukan oleh sebagian masyarakat adat, bukan merupakan proses mimetik (peniruan) dari generasi ke generasi untuk sekadar memuliakan tradisi semata. Tetapi juga menyebarluaskan gagasan baru tentang gaya hidup yang dilatarbelakangi oleh ekologi budaya Sunda, yang didasari dengan seperangkat pengetahuan atas struktur sejarah Sunda dan kemampuan dalam mengapresiasi kearifan tradisi lokalnya. Direktori itu, kemudian diharapkan mampu memberikan jalan keluar dalam mengurai benang kusut dari setiap problematika yang dihadapi masyarakat Sunda pada umumnya.

Tradisi adalah kontinuitas. Tradisi merupakan ingatan kolektif suatu masyarakat untuk tetap survive dari segala ketidakpastian dalam menghadapi perubahan. Dari sini dapat kita simpulkan, bahwa perubahan adalah suatu keniscayaan yang semestinya bukan untuk ditakuti. Dalam konteks tradisi, kita tentu tidak mungkin mengelak dari perubahan tata nilai dan pergeseran orientasi kebudayaan. Justru masyarakatlah yang menjadikan tradisi sebagai fenomena agar tetap stabil. Diskursus mengenai Kampung Naga, sadar atau tidak, telah memberikan gambaran betapa perubahan tata nilai yang mendera paradigma dan kondisi psikologis masyarakatnya tahap demi tahap mengalami perkembangan. Arus kemajuan teknologi berkelindan masuk ke alam pikiran masyarakat Kampung Naga. Hingga pada saat tertentu, hal ini akhirnya mendorong rangsangan kepada masyarakat adat Kampung Naga untuk sedikit melepaskan dari kungkungan tradisinya demi mencoba hal-hal baru. Sarana komunikasi virtual berupa telepon seluler, ternyata bukan lagi barang baru bagi masyarakat Kampung Naga. Begitu pula dengan televisi, radio, bahkan beberapa diantara generasi muda Kampung Naga sudah begitu paham dengan permainan play station. Sekadar catatan, di area parkir yang berdekatan dengan pintu gerbang menuju kawasan Kampung Naga, kini terdapat outlet khusus yang menyediakan jasa sewa play station. Keberadaan outlet ini, langsung atau tidak langsung, merupakan pemandangan yang cukup menghancurkan ekspektasi untuk menghayati lintasan sejarah dan tradisi Kampung Naga.

Mari kita jaga eksistensi Kampung Naga agar tetap tumbuh dan lestari. Agar setiap generasi mampu membangun kesadarannya melalui ruang-ruang tradisi.***

(Didin Syafrudin)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s